Siswa SMK St. Aloysius Ruteng Ciptakan Mesin Pencacah Pakan Ternak Babi

Oleh: Muhammad Abdul Majid · Rabu, 5 Februari 2020 09.00 · 1.196

Bagikan

Menyambut era revolusi industri 4.0, siswa jurusan Kompetensi Keahlian Teknik Pengelasan SMK Swasta St. Aloysius Ruteng, Manggarai bersama guru pembimbingnya berhasil menciptakan inovasi baru mesin pencacah pakan ternak babi.

Mesin ini dirakit sesuai ide kreatif guru dan murid-murid kelas XII SMK Swasta St. Aloysius Ruteng. Para siswa yang membuat mesin pencacah pakan ternak tersebut adalah siswa kelas XII jurusan Kompetensi Keahlian Teknik Pengelasan. Para siswa dibimbing gurunya, Gerardus Syukur, S.T.

Gerardus Syukur, S.T kepada POS-KUPANG.COM di ruangan prakteknya SMK St. Aloysius Ruteng, Selasa (4/2/2020) siang mengungkapkan, target produksi mesin ini sebetulnya mau menunjukan bahwa anak-anak di SMK St. Aloysisus ini mampu menciptakan inovasi baru dan untuk membantu para peternak babi.

Mereka yakin bahwa inovasi mesin pencacah pakan ternak ini merupakan jawaban atas harapan dari Menteri Pendidikan Republik Indonesia kalau dunia pendidikan sekarang ini tidak hanya menuntut seberapa tinggi nilai yang diperoleh tetapi lebih pentingnya sejauh mana peserta didik bisa menunjukan skil atau kemampuan mereka dalam dunia yang paling konkret.

“Bagi saya selaku guru pembimbing jurusan pengelasan pada SMK St Aloysius ini mengharapkan anak-anak atau siswa di sini mampu menjawabi tantangan era industri 4.0. Di sini mereka diusahakan untuk berhasil menciptakan berbagai inovasi baru yang bisa membantu masyarakat," Gerardus yang sering disapa Gery.

Pada bagian lain, Gery selaku guru pembimbing sekaligus inisiator pembuatan mesin itu menambahkan, sumber daya manusia di Manggarai ini sebetulnya luar biasa untuk mampu menciptakan sesuatu yang baru.

Namun, untuk mencapai pada tataran sumber daya tersebut, manusia atau siswa pada tataran dunia pendidikan harus memiliki pembimbing dan harus memiliki ruang kreativitas yang memadai. 

“Sumber daya siswa pada sekolah SMK Swasta St. Aloysius Ruteng maupun siswa lain di Kabupaten Manggarai ini sebetulnya memiliki kapasitas diri yang sangat militan dan inovatif. Namun, untuk menjadi pribadi yang inovatif tersebut, siswa sangat membutuhkan ruang dan pembimbing yang militan," ujar Gery.

Menyikapi kerinduan untuk membantu masyarakat Menggarai yang sekarang ini sedang gencar membudidayakan ternak babi, Gery sangat mengharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk menjemput peluang inovasi baru yang sekarang sedang dilakukan oleh siswa SMK St. Aloysius Ruteng.

“Sejak awal munculnya ide kreatif membuat mesin pencacah ternak tersebut, siswa sangat antusias dan responsifnya tinggi sekali," papar Gery yang kini menjabat Wakil Kepala Sekolah Bagian Humas SMK St. Aloysisus tersebut.

Kepala Sekolah SMK St. Aloysius Ruteng, Bruder Viktor London saat diminta tanggapanya terkait kreativitas para guru dan siswanya mengungkapkan, kegiatan pembuatan mesin pencacah pakan ternak ini merupakan sebuah inisiatif dari para guru yang produktif untuk melatih para siswa agar lebih kreatif.

“Mereka dilatih bagaimana mengaplikasikan pengetahuan yang mereka pelajari selama ini dengan memanfaatkan sarana yang ada agar diubah menjadi sesuatu yang lebih berguna dan itulah yang disebut daya cipta. Hasil ciptaannya itu dapat memudahkan orang lain dalam melakukan pekerjaannya, seperti mesin pencacah pakan ternak tersebut pastinya akan memudahkan para peternak," terang Bruder Viktor.

Selain itu, Bruder Viktor menambahkan, para siswa juga dilatih tidak hanya bagaimana membuatnya tetapi bagaimana mereka dilatih menghitung biaya sampai pada penjualannya.

Para siswa dilatih untuk menghasilkan sesuatu perlu dengan perhitungan yang benar mulai dari pengadaan sarana juga termasuk jasa pembuatannya. Dihitung dengan teliti.

“Saya melihat anak-anak sangat antusias. Mereka dengan tekun dan sabar dalam proses untuk memperoleh sebuah hasil. Pada tahap ini mereka dilatih karakternya bagaimana menjadi sabar, tekun, jujur dan tetap rendah hati. Keberhasilan jangan membuat diri lalu menjadi cepat puas tetapi terus berusaha," kata Bruder Viktor.

Bruder Viktor mengungkapkan, sebetulnya usaha untuk membangun daya cipta siswa tidak hanya melalui pembuatan mesin pencacah pakan ternak. Namun, ada juga kreativitas inovatif yang lain, seperti pembuatan meja/almari tempat TV, Gokart, alat campur semen, pembuatan pintu lipat, rak piring dari drum bekas dan masih banyak kreativitas yang lainya.

“Karen itu, saya berterimakasih kepada para guru yang telah mendidik anak didikannya selama ini. Karena kerja keras para guru dalam menyiapkan siswa/i agar benar benar siap untuk bekerja dan membuka usaha sendiri di kemudian hari sangat luar biasa," tutup Bruder Viktor.

Sementara itu, salah seorang siswa kelas XII jurusan pengelasan SMK St. Aloysisus Ruteng, Magnus A. Durhaman kepada media ini menerangkan sebagai siswa ia sangat mengapresiasi kepada para gurunya yang sudah merangsang kreativitas mereka dalam merakit segala inovasi baru yang mereka kerjakan.

Bagi Magnus, untuk menyelesaikan ide kreatif yang ada, maka sangat dibutuhkan kerja sama tim. Pengalamannya, selama ini mereka selalu menyelesaikan berbagai macam inovasi yang baru dengan secara bersama-sama.

“Kami menyelesaikan kreativitas inovasi baru ini dengan semangat kerja sama tim yang militan. Dengan kerja sama tim, kami merasa bahwa wawasan kami semakin ditambahkan karena perpaduan dari berbagai ide,” papar Magnus siswa kelas XII tersebut.

Tidak hanya itu, ia juga mengungkapakan, motivasi dasar mereka dalam merakit mesin pencacah pakan ternak ini karena memahami himbauan menteri pendidikan sekarang ini yang mana sangat membutuhkan dan mengedepankan skil atau kemampuan setiap generasi didik dalam setiap lembaga pendidikan di Indonesia.

Magnus berambisi dan bermimpi ketika menyelesaikan studinya di SMK Swasta St. Aloyisius Ruteng, dirinya akan membangun ruang kerja baru di masyarakat. Baginya, modal dasar beliau selama tiga tahun di SMK St. Aloysius bisa membawa sesuatu yang berubah di masyarakat.

Hal penting bagi Magnus adalah tujuan dari mimpi membangun usaha pengelasan ini untuk meminimalisasi tingkat pengangguran di daerah ini khususnya di Kabupaten Manggarai. Karena itu beliau berharap kepada pemerintah daerah Kabupaten Manggarai untuk siap menjemput peluang generasi yang benar-benar berhasil menciptakan inovasi baru.

“Saya berharap kepada pemerintah agar teruslah mendorong sekolah-sekolah sewasta. Karena baginya, sekolah-sekolah kejuruan swasta yang ada di Kabupaten Manggarai kebanyakan mendorong siswanya untuk langsung menyentuh dengan tindakan praktis yang seringkali dibutuhkan di masyarakat," ungkap Magnus

Sumber: https://kupang.tribunnews.com/

Bagikan

#PetuahPetuah

Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.

Ki Hajar Dewantara